MANADO_AKTUAL, MINSEL|| Akhir tahun 2025 ini kami menyoroti sosok Theo Kawatu sosok Politisi yang memulai kariernya dari seorang Sprinter Nasional. Tidak semua pemimpin lahir dari satu ruang pengabdian. Brigadir Jenderal TNI (Purn.) Theodorus Kawatu, S.I.P. adalah contoh nyata figur yang ditempa oleh lintasan panjang pengalaman—dari arena atletik, barak militer, gelanggang olahraga prestasi, hingga ruang pengambilan kebijakan pemerintahan dan politik.
Tahun 2025 menjadi babak penting dalam perjalanan hidupnya. Di Tahun Ular Kayu, simbol keteguhan dan kebijaksanaan, Kawatu resmi memasuki dunia birokrasi pemerintahan daerah setelah dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Wakil Bupati Minahasa Selatan, mendampingi Franky Donny Wongkar, S.H. Pelantikan ini bukan sekadar seremonial jabatan, melainkan penegasan kepercayaan negara kepada seorang prajurit yang telah menuntaskan pengabdiannya di TNI dengan pangkat jenderal bintang satu.
Sebelum menanggalkan seragam hijaunya, Kawatu mengakhiri karier militer sebagai Koordinator Staf Ahli Kodam XIII/Merdeka. Ia dikenal sebagai perwira dengan karakter tenang, tegas, dan sistematis—nilai-nilai yang kini menjadi fondasi kepemimpinannya dalam birokrasi sipil.
Namun, TNI bukan satu-satunya rumah pengabdiannya. Dunia olahraga justru menjadi ruang panjang yang membentuk sisi lain kepemimpinan Kawatu. Mantan atlet atletik nasional ini telah lama berkecimpung dalam manajemen olahraga Sulawesi Utara. Hingga menjelang pelantikannya sebagai Wakil Bupati, ia masih menjabat Ketua Harian KONI Sulut periode 2021–2025, mendampingi Drs. Steven Kandouw.
Kepercayaan serupa pernah diberikan sebelumnya oleh Olly Dondokambey, S.E., saat memimpin KONI Sulut periode 2016–2021. Bahkan jauh sebelum itu, ketika masih berpangkat Mayor dan menjabat Kepala Staf Kodim 1309 Manado, Kawatu sudah dipercaya menjadi Wakil Komandan Kontingen Sulut pada PON Palembang 2004. Pada PON Riau 2016, saat menjabat Dandim Minahasa, ia kembali dipercaya sebagai Ketua Kontingen Sulut.
Rangkaian pengabdian tersebut menegaskan satu hal: Kawatu bukan sekadar pejabat struktural, melainkan figur yang memahami olahraga sebagai sistem pembinaan karakter, disiplin, dan prestasi. Meski secara struktural kiprahnya di KONI berakhir pada Mei 2025, kepercayaan tetap mengalir melalui penunjukannya sebagai Dewan Kehormatan KONI Sulut Masa Bakti 2025–2029.
Memasuki pemerintahan daerah, peran Kawatu semakin strategis. Sebagai Wakil Bupati, ia menjadi mitra utama Bupati Franky Donny Wongkar dalam mengawal jalannya pemerintahan, memastikan disiplin aparatur, serta memperkuat tata kelola birokrasi. Pendekatan kepemimpinannya cenderung senyap, bekerja dalam sistem, namun tegas pada prinsip.
Di luar ruang kerja formal, Kawatu dikenal aktif menyatu dengan masyarakat. Ia hadir dalam kegiatan sosial dan keagamaan, membangun komunikasi lintas kelompok sebagai bagian dari upaya menjaga harmoni sosial di Minahasa Selatan.
Menjelang akhir Desember 2025, peran baru kembali dipercayakan kepadanya. Tongkat estafet Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Minahasa Selatan resmi berpindah ke tangan Kawatu. Sebagai kader yang diusung PDI Perjuangan pada Pilkada 2024, penunjukan ini menandai kepercayaan politik yang tidak kecil—menyatukan tanggung jawab pemerintahan dengan konsolidasi partai.
Dalam satu tahun yang sama, Theodorus Kawatu memegang peran strategis di tiga ranah berbeda: birokrasi pemerintahan, olahraga prestasi, dan kepemimpinan politik. Sebuah kombinasi langka yang menempatkannya sebagai figur multidimensi.
Menatap Tahun 2026, tantangan tentu tidak ringan. Namun bagi banyak pihak—masyarakat olahraga, warga Minahasa Selatan, hingga kader PDI Perjuangan—nama Theodorus Kawatu kini diposisikan sebagai simbol harapan: menjaga prestasi, memperjuangkan kesejahteraan, merawat integritas, dan memastikan kepemimpinan tetap berpijak pada nilai pengabdian.
Bagi Kawatu, jabatan hanyalah alat. Pengabdian tetap menjadi tujuan. Andalkan Tuhan yang Utama.
Nathan)
